Kamis, 29 November 2012

Antologi Visual; Episode @saratuspersen Performance at Rolling Stone Cafe Indonesia #ICEMA 2012

#Let's Jump, Jump, and Jump!!!

Sejak awal terbentuknya di tahun 2001 silam, gw cukup banyak menyimak kiprah Kelompok Musik SaratusPersen ini. Sebuah proses panjang yang dilalui SaratusPersen, lambat laun telah mencatat historiografi kelompok musik yang terbentuk di ruang kecil beralamat di Jalan Buah Batu 212 Bandung tersebut. Seiring perjalanannya, SaratusPersen mengalami bongkar pasang personel yang cukup sering, terlebih sebagai kelompok musik (baca: Band, -red) yang memiliki personil hingga belasan orang.

SaratusPersen hingga kini masih cukup asyik memadukan harmoni gamelan Bali dan instrumen modern yang dikemas cukup apik, dibumbui nada-nada pentatonis sunda, serta noise ke-sundaan yang cukup kental dari para personilnya. Sebagai band yang "Olok Kejo", SaratusPersen hingga kini cukup rajin manggung di berbagai daerah, tak terkecuali ke kancah internasional.

Beberapa waktu yang lalu, gw mengikuti SaratusPersen manggung di Rolling Stone Cafe yang menjadi bintang tamu di acara #ICEMA2012. Pada raraga tersebut, anak-anak SaratusPersen yang mewakili genre World Music tersebut, berkolaborasi bersama Ras Muhammad membawakan sebuah karya ALMARHUM Harry Roesli "Si Gitar Satu Senar", dan beberapa lagu lainnya.

Nih dia foto-fotonya barudak SaratusPersen di #ICEMA2012:














  
 







 


  



Eh, bersambung dulu ya.. Nanti kita bahas Band "Olok Kejo" berlabel SaratusPersen ini, selengkap-lengkapnya dalam Antologi yang berbeda tentunya.. Tabik!  \m/

Selasa, 30 Oktober 2012

Antologi Visual, Episode Melahap Nasi Goreng Pete


 

Apa yang akan dilakukan kebanyakan orang saat lapar? Jawabannya sudah barang tentu adalah MAKAN! Serupa dengan ketika orang mengantuk, maka ia akan tertidur. Atau ketika seseorang sedang mules, maka ia akan mencari WC untuk setor! 

Semalem, gw nyaris kelaperan. Turun ke kantin kantor Niscaya sudah kosong mlompong. Karena, jam sebelas malem kantin sudah tidak berpenghuni, baik yang bisa dimakan maupun yang tidak bisa dimakan. Akhirnya gw putuskan untuk berjalan2 di jalan Panjang mencari sesuap nasi yang seharusnya) bisa membuat nikmat dan kenyaang. Itu sudah pasti. 

Di pinggiran Arteri Jalan Panjang antara Kelapa Dua dan kebon jeruk, gw menemukan gerobak nasi goreng yang masih berpenghuni dan tampaknya ada sesuatu yang sangat menggoda selera makan gw. Ya, Pete2 (Peuteuy; bahasa latin sunda) yang bergelantungan tersipu angin malam, dan seolah2 memanggil2 gw dengan gemulainya. 

"...Nasi goreng Pete, yang pedas, Mas 1 Porsi!..."

Berhubung itu gerobak nasi goreng cukup disesaki para tamu yang siap melahap hasil karya si penjual nasi goreng, otomatis gw menjadi salah satu tamu yang harus antri dengan perut Dangdutan (bahasa lain keroncongan-atau-kerock-rock-an). Yah, terpaksa Antri deh. 

Dalam gw termangu menanti nasi goreng pete yang dalam imajinasi gw mengepul dan harum mewangi itu, gw putuskan untuk jeprat-jepret kiri-kanan gak karuan. Berbekal FujiFilm XE-1 di tangan, jemari yang iseng pun mulai beraksi menekan tombol shutter berkali2. Kamera masih tersangkut pada mode Multi-Expose, yang pada akhirnya membuat gw harus memotret 2 kali dalam satu frame yang sama. Sembrawut sih, tapi di sana gw banyak menangkap aksi si penjual nasi goreng tersebut. Dalam arti, proses memasak nasi goreng pete yang gurih, nikmat, dan renyah itu ternyata diiringi dengan niatan ikhlas dan energi dari kedua penjual nasi goreng pete itu. Terelebih ada aura yang membuat energi itu larut bersama rempah2 dalam bumbu nasi goreng pete yang gw makan. Nikmat lah pokona mah... Harumnya Peuteuy itu melekat sepanjang waktu... Tabik!